WellKom

selamat menikmati kunjungan anda, semoga bermanfaat,,...TERIMA KASIH

Thursday, May 14, 2009

potret pergaulan masa sekarang

Kalaulah boleh, izinkan saya mengutip sedikit dalil berikut ini

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”
Al-Qur’an, Surat An-Nuur (24) ayat 30
Dari Umar r.a, dari Nabi SAW telah bersabda: “Tidaklah berdua-duaan lelaki dengan seorang perempuan melainkan orang yang ketiganya adalah syaitan”
HR. At-Turmizi

Saya bukan termasuk orang yang sangat kaku dalam memandang pergaulan anak muda, asal tahu batas-batasnya. Tapi, ketika saya melihat kenyataan yang terpampang di mata saya, saya benar-benar merasa trenyuh dan tak bisa berkata apa-apa. Saya sebenarnya tidak suka menulis sambil berdalil, tahu diri lah siapa saya, bukan kapasitas saya untuk berdalil. Mas ini atau mas ini jauh lebih capable. Namun kali ini, izinkan saya mengutip dua dalil yang sudah saya kutip di atas.
***
Lihatlah kolase ini. Ini saya ambil dari Pantai Marina Ancol. Sehabis main jet-ski ama klub sailing kantor, saya sempatkan berjalan-jalan ke sekitar Pantai Marina. Kalau di tempat umum saja mereka bisa semesra itu, bagaimana kalau di tempat yang lebih privat?
Beberapa tahun yang lalu, jilbab adalah pakaian yang mencirikan seorang muslimah. Jilbab yang saya kenal adalah kerudung yang menutupi rambut hingga sebatas lengan atas atau siku. Tapi rasanya, sejak generasi Inneke Koesherawati dan Ratih Sanggarwati memperkenalkan jilbab modifikasi yang diikat di leher itu, jilbab terus berkembang dan akhirnya dirampok dari ciri seorang muslimah.
Kembali ke laptop!
Ingat lagu Chrisye? “Engkau masih anak sekolah satu SMA, belum tepat waktu untuk begitu begini…” Wah, lagu ini kayaknya sudah kadaluarsa ya? Sekarang telah menjadi opini umum di kalangan anak muda, bahwa punya pacar itu adalah harus, jika tidak, kamu akan dianggap tidak laku dan tidak pandai bergaul. Jika sudah punya, tentu, namanya bukan pacaran jika tidak ada representasi kasih sayang seperti kata-kata manis, perhatian, pelukan di pundak, atau sandaran di bahu, dan tentu saja… ciuman sayang @};- .
Well, kampanye yang dilakukan oleh anak muda yang mengistilahkan diri
sebagai akhwat dan ikhwan saya anggap kontraproduktif jika ditinjau dari sisi marketing. Apa yang mereka lakukan dengan langsung tembak frontal — yaitu memperkenalkan konsep yang sangat bertolak belakang — saya rasa tidak efektif karena kondisinya sudah terlalu rusak parah. Untuk masuk pasar yang sudah dikuasai oleh pemain raksasa, cara yang sering berhasil adalah dengan gerilya, bukan dengan serangan frontal. Untuk melawan opini yang telanjur mengakar, tentunya tidak harus dilawan dengan pembangunan opini yang frontal pula.
Ah, saya tidak akan terlalu banyak mengkritik tim kampanye ini, nanti saya dihajar dengan bermacam-macam dalil lagi, hehehe…

No comments:

Post a Comment

There was an error in this gadget